Sunday, January 1, 2012

PERTEMUAN DENGAN CINTA


Jonathan
Engkau muncul seperti mimpi pada diriku. Begitu saja seperti kaledoskop mewarnainya. Lindungi aku. Yang kuinginkan hembusan nafas yang kuhirup. Tak tahukah engkau… kau yang terindah….

            Aku berusaha meraih buku yang terletak begitu tinggi di sebuah rak perpustakaan. Label “Sejarah” tercetak pada papan dengan tulisan warna hitam di atas latar kuning. Berdebu dan sudah menjadi bagian dari jaring laba-laba. Begitu juga buku-buku di ruangan yang besar ini. Berdebu, berbau tua, dan seakan tidak dihiraukan. Gambaran perpustakaan yang ideal sangat bertolak belakang dengan kondisi tempatku berada. Lagipula sekarang perpustakaan digital sudah dikembangkan dan siap meninggalkan institusi yang masih bersifat konvensional ini di belakang. Aku tidak mau seperti itu. Aku menyukai gedung perpustakaan, meski aku bukan pembaca yang baik.
            Aku bukan seorang kutu buku walaupun betah berlama-lama di perputakaan. Juga bukan karyawan dari perpustakaan kampus ini. Aku hanya… menyukai kenyamanan yang bisa kuperoleh diantara tumpukan buku, rak-rak yang menjulang tinggi dan label-label pada punggung buku. Aku menyukainya. Tenggelam di koridor antara rak “Agama” yang menyimpan kitab-kitab suci berbagai agama dan rak “Ekonomi” yang menampilkan buku hasil pemikiran ekonom dunia. Aku tidak membaca mereka, aku hanya ingin disini. Sendiri.
            Dan kadang tidur di sana.
            Saat itulah aku bisa berada dalam kondisi trance… aku bermimpi, namun semua kelihatan nyata. Ketika aku bangun, aku sudah berada di tempat lain. Awalnya aku ketakutan setengah mati, namun selanjutnya menikmati. Jika ada yang ingin kulakukan dalam hidup aku akan menjawab tidak ada. Aku hanya ingin selalu tertidur dan biarlah apa yang ada dalam tubuhku ini mengambil ragaku.
            Itu dulu, sebelum aku bertemu dengannya. Sebelum aku tahu betapa bersama seseorang itu begitu menyenangkan.

Andy Fajrian, seorang mahasiswa Sastra, pernah kubantu saat dia terjatuh dari motornya di sebuah perempatan. Seorang pengendara motor yang ugal-ugalan begitu ceroboh menyenggol cowok itu hingga jatuh. Aku, yang kala itu menunggu bus datang, berlari membantu Andy saat orang lain hanya bisa melihat dan berkomentar. Menarik motornya ke samping dan membawanya duduk ke sebuah warung pinggir jalan. Membelikan obat merah dan plester luka. Kuobati siku dan lututnya yang berdarah. Luka yang sedikit tapi bisa saja terinfeksi.
            Aku tak biasa membantu orang seperti ini. Semua berlangsung begitu cepat, refleks, dan entah kenapa seperti sebuah takdir. Saat kami kembali mengenang masa itu, Andy selalu tertawa dalam suaranya yang dalam.
Andy lebih tua empat tahun dariku dan dia kupanggil Abang. Dia kuliah semester 5 dan kampusnya cukup jauh berada dari kawasan tempatku tinggal dan sekolahku. Kusangka pertemuanku hanya sekali itu, dan tak akan pernah ada lagi. Ternyata tidak.

Aku pernah mengunjungi hampir seluruh perpustakaan di kotaku. Kebanyakan berada di universitas, lainnya milik pemerintahan, institusi pendidikan lain, dan LSM. Namun, tak ada yang nyaman selain di universitas itu, tempat Andy sekolah.
            Seperti biasa, setelah selesai melakukan tugas rumah pada pukul 4 sore, aku pergi mengendarai sepedaku ke sana. Aku sengaja berpenampilan seperti mahasiswa dengan memakai kemeja dan sepatu, lagipula tinggiku memang diatas rata-rata anak seusiaku sehingga tak ada yang terusik dengan kehadiran anak SMA kelas XI ini.
            Di sana, aku mencari tempat terbaik untuk duduk, jauh dari jangkauan orang-orang dan tersembunyi di rak yang paling jarang dikunjungi orang. Rak “Kebudayaan Kuno” mengimpitku bersama rak “Tata Boga”. Sekali dua kali ke sana, aku berhasil tetap merasakan sensasi trance itu.
            Tapi di hari itu, …
            “Eh?” Hanya itu yang keluar dari mulutku saat melihat wajahnya.
            “Kamu yang waktu itu menolongku, kan?” tanyanya.
            Aku tak akan pernah lupa kalau aku mengangguk begitu bersemangat.
            “Kenapa di sini? Meminjam buku?”
            Kenapa banyak orang bertanya hal yang mereka tahu jawabannya?
            “Hanya baca-baca saja. Aku bukan mahasiswa di sini, tidak bisa minjam buku,” jawabku.
            “Oh, kalau begitu selamat membaca,” katanya dan dia pergi. Begitu saja.

            Aku tak tahu kalau ada yang bisa membuatku tak bisa kembali trance. Aku tak tahu kenapa isi otakku yang biasanya serasa kosong dan bisa melayang seperti balon, kini dipenuhi oleh entah apa. Aku hanya ingin… entahlah.
            “Kamu menungguku?”
            Aku memang sengaja berada di luar pepustakaan menantikan dia keluar. Aku masih ingin berbincang dengannya. Sekali lagi tanpa alasan yang jelas.
            “Aku masih SMA dan aku suka perpustakaan,” kataku. Kuharap aku menghilang dari sana secepatnya.
            “Oke…,” katanya ragu. “Butuh tumpangan?” tanyanya masih ragu. Mungkin dalam otaknya sedang mempertimbangkan ide untuk memberi orang aneh ini tumpangan.
            Kutunjuk ke arah sepedaku yang terparkir.
            Dia mengangguk. “Kita belum kenalan. Aku Andy, kamu?”
            “Jonathan. Atau Jo.”
            Dia bertanya kenapa aku bisa ada di sini, kujawab saja karena suka perpustakaan. Dia berkata kalau dia cukup suka membaca karena kuliah di Sastra.
            “Dan aku sedang butuh referensi penelitian untuk tugasku, sekaligus sedang menyiapkan sebuah novel.”
            “Novel? Abang seorang penulis?”
            Dia menggeleng. “Aku baru menulis beberapa cerpen dan esai. Sekarang mencoba yang lebih susah,” katanya tertawa sendiri. “Masih belum berhasil, tapi yang pasti aku akan membuat novel sejarah. Settingnya penjajahan Jepang.”
            “Menarik sekali,” kataku.
Minggu-minggu selanjutnya, Andy selalu datang di hari Kamis untuk meminjam buku dan mengembalikannya hari Rabu. Aku memperhatikan jadwal itu dan menunggunya di luar untuk mengobrol. Semua mengalir begitu saja bagai kami sudah seharusnya begitu.
            Padahal aku tak punya teman lain di sekolah.

Jonathan adalah aku, penderita disleksia ringan yang merasa rendah dibandingkan teman-temannya yang lain. Semua nilaiku pas-pasan untuk naik kelas. Apa pun usaha yang kulakukan tidak mengubah keadaan. Semua memandangku sebagai anak yang bodoh. Pernah suatu kali ada guru yang baik hati yang ingin membantuku. Dia menawarkan tambahan jadwal belajar di rumahnya. Sayangnya, guru itu baru saja menikah sehingga tidak sampai seminggu kami belajar tambahan bersama, dia cuti. Aku tak mengharapkan dia kembali karena sang guru  memang pindah ke luar kota. Selanjutnya, aku masih tetap menjadi begini. Sendiri.
            “Jojon. Lo beliin gue roti dong. laper nih.”
            Aku tak mengacuhkan suara di belakangku. Teman sekelasku itu memanggilku Jojon, kedengarannya aku seperti idiot, walaupun memang iya.
            “Oi! Budek lu, ya?” tanya yang lain.
            Sebuah gumpalan kertas mengenai kepalaku. Kemudian aku juga dilempari penghapus. Walau begitu, aku tetap membaca buku. Kuusahakan mereka melihat punggungku yang tegar. Aku akan tabah.
            Cowok-cowok itu makin ramai melempariku. Sampai ada seorang yang mendekati, orang yang meminta dibelikan roti itu.
            “Lo udah idiot, budek juga. Mau nyari lawan sama gue?” ditariknya lenganku. “Berdiri lo!”
Aku berdiri.
Dia mengambil buku yang sedangku baca.
            “Nicholas Sparks!?? Baca novel romantis lagi! Cowok masa baca beginian?” Dilemparnya buku berjudul Dear John itu ke teman-teman di belakang. Kemudian seperti koor paduan suara mereka tertawa. Sayangnya suara mereka seperti kumpulan serigala yang kelaparan. Aneh juga cowok itu tahu si pengarang novel kesukaanku.
            “Gue lapar. Beliin gue makanan di kantin!” bentaknya lagi.
            “Uangnya?” tanyaku.
            “Pake uang lo! Gue kan mintaknya ke elo!”
            Kemudian dengan pasrah aku pergi ke kantin.
            Bagi teman-teman sekolahku yang seperti itu, yang agak berandalan dan  suka mengusili orang, aku adalah sasaran empuk tindakan mereka. Bagi siswa yang populer, aku hanya kutu yang invisible. Bagi siswa yang biasa saja, aku sebaiknya dihindari agar tidak terkena virus anti-populer. Sedangkan bagi guruku, aku hanya pelengkap dalam kelas: dimana jika ada murid yang pintar harus ada yang bodoh.

Rabu ini aku bertemu lagi dengan Andy, kami makan di sebuah warung bakso. Andy mentraktirku karena dia baru saja mendapat honor atas tulisannya yang dimuat di sebuah majalah.
            “Bagaimana novel Abang? Udah hampir selesai?” tanyaku sedikit antusias. Apalagi aku terlalu banyak memberi cabe pada baksoku hingga kepedasan sendiri. Bicaraku jadi agak berlebihan.
“Masih belum, Dek. Butuh beberapa hal lagi agar settingnya semakin kuat.”
“Kalau udah siap, aku yang baca duluan, yah?”
            “Siip. Abang perlu sekali komentar kamu.” Andy mengambil sebuah tahu goreng dan menikmatinya. “Kita sudah sering cerita tentang Abang. Sekarang tentang kamu, dong. Bagaimana sekolahmu? Kegiatan selain ke perpustakaan apa?”
            “Sekolahku ya begitu-begitu saja. kadang menyebalkan, kadang biasa saja. pernah juga asyik kalau guru-guru rapat bulanan dan kami pulang lebih cepat.”
            Dia tertawa. Kayaknya aku baru saja melucu, jadi aku tertawa juga.
            “Di sekolah aku ambil jurusan Ilmu Sosial, karena aku benci fisika dan kimia. Walaupun aku juga benci akuntansi.”
            “Kalau pelajaran yang kamu suka?”
            “Sejarah.”
            “Ikut-ikut Abang, ya?” ledeknya.
            Aku mengangguk. “Ya, mungkin…”
           
Aku menghindari apapun topik yang menyangkut keluargaku. Sebaiknya jangan ada yang bertanya. Jangan ada yang tahu. Tapi, sebaiknya juga aku mengatakannya. Oke, aku masih punya orangtua lengkap. Mama dan Papa. Aku anak tunggal. Cukup, kan?
            “Jo, sudah bayar uang sekolahmu? Bagaimana kata gurumu, apa kita dimarahi?”
            “Sempat dimarahi, Ma. Kita menunggak tiga bulan. Belum terlalu buat masalah, sih. Bulan besok jangan sampai menunggak lagi, itu pesan pegawai Tata Usaha sekolah.”
            Kulihat wajah Mama yang letih, semakin menua dan keriput di wajahnya samar-samar muncul di sudut matanya. Kulitnya tak lagi secerah dimana aku lihat di foto beliau masa muda dulu.
            “Jangan lupa siram tanaman di halaman, ya, Jo?”
            “Iya, Ma. Habis pulang dari perpus aku kerjakan.”
            Beliau sedang ada di dapur, mencuci piring, kurang lebih sama dengan apa yang dilakukannya di tempat kerja. Mama seorang juru masak di sebuah restoran elit. Dia mendapat bagian memasak makanan yang tidak penting, selebihnya tugas  mencuci piring.
            Aku memeluk beliau dari belakang. Kemudian menelusuri perutnya. Kurasakan sebuah bekas jahitan… dulu pernah ada luka di situ yang aku perbuat. Saat aku begitu susah keluar sehingga beliau harus dioperasi. Tanda itu bukti betapa sedari bayi pun aku sudah menyusahkannya. Aku menyayangi mama. Sangat.
            “Jangan terlalu lelah. Mama nanti kerja shift malam, kan?”
            “Iya. Pergi sana. Nanti papamu pulang!”
            Aku bergegas pergi dengan sepadaku. Pergi kemana pun yang kuinginkan selain berada di rumah. Sebisa mungkin aku jangan sampai berjumpa dengan Papa.

“Hai, abang!”
            Jendela itu terbuka begitu saja sehingga semua orang yang lewat hampir bisa melihat isi kamar Andy. Dia sedang duduk di depan meja komputernya, kipas angin berembus dengan kekuatan maksimal. Minggu yang lalu aku diajaknya ke kost itu dan sekarang aku punya tujuan lain selain ke perpustakaan.
            “Masuk, Jo. Di kulkas ada es krim vanilla. Kalau mau ambil aja. Asal jangan dihabisin…”
            Aku tak langsung berlari ke kulkas walaupun sangat ingin menikmati makanan yang jarang kudapatkan itu. Aku malah melangkah ke dekat Andy. Melihat apa yang sedang dia ketik.
            Andy membiarkan saja komputer menyala selagi dia sibuk membaca buku sejarah yang tebal sebagai referensi.
            “Aku tidak sabar menunggu untuk membaca cerita Abang,” kataku. “Ada kisah cintanya, kan?”
            Andy menjelaskan kalau novel yang dia buat itu berkisah tentang orang-orang yang berada di zaman penjajahan Jepang. Saat dimana kesusahan dan penderitaan menjadi makanan sehari-hari. Meski pun Jepang hanya 3,5 tahun di Indonesia, dampak buruknya setara dengan 3,5 abad penjajahan Belanda. Novel yang ditulisnya akan mempunyai cerita dari sudut pandang beberapa orang. Termasuk serdadu Jepang.
            “Hmm, menarik. ada cerita cintanya tidak?” tanyaku lagi.
            “Cerita cinta? Abang nulis ini biar belajar sejarah tidak melulu membosankan. Targetnya memang anak-anak seumuran kamu. Tapi, kalau cerita cinta, agak susah ya?”
            “Remaja lebih suka yang romantis, apalagi cewek. Lagipula penikmat novel dari kalangan cowok itu kebanyakan melankolis dan cenderung romantis juga,” kataku teringat akan sebuah tulisan yang kubaca.
            “Menurut Abang, itu terlalu Hollywood,” bantahnya sambil melepaskan kacamata yang hanya dipakainya jika membaca.
            “Semua orang suka Hollywood. Apalagi anak muda.”
            “Begitu, ya?”
            Aku berjalan ke arah kulkas. Kutemukan dua kotak besar es krim rasa vanilla, yang bertabur coklat, kacang, dan dipastikan berkalsium. “Kok ada dua?”
            “Buat kamu satu,” jawab Andy tersenyum.
            “Benar nih? Katanya tidak boleh habis.”
            “Aku bercanda. Aku memang sengaja beli dua biar kita sama-sama puas makannya.”
            Dia juga menuju kulkas dan mengambil salah satu kotak es krim. Satunya lagi sudah berada di tanganku. Kemudian, dia memintaku mengambil sendok dan duduk bersandar ke tempat tidur sambil menonton TV.
            Kuyakin orangtua Andy kaya raya. Bagaimana pun, mustahil ada mahasiswa S1 yang tinggal di kost dengan fasilitas hampir lengkap kecuali finansial orangtua yang tak perlu dipermasalahkan lagi. Apa pun yang diminta bisa hadir kapan saja.
            Aku merasa tak pantas di sini.
            Apalagi dia mengganti saluran berita TV One menjadi Global TV hanya karena melihatku tertawa saat melihat Sponge Bob beraksi.
            “Duh, sudah SMA masih doyan Sponge Bob,” ledeknya. “Tidak apa-apa, deh. Kadang Abang malas juga selalu nonton berita.”
            “TV kan buat hiburan, bukan buat kepala jadi tambah pusing.”
            Beberapa saat ruangan itu hanya dipenuhi suara Sponge Bob yang terbahak-bahak melihat ulah Patrick Star mempermainkan Squid Ward.
            “Jo, mengenai yang tadi, yang kamu sarankan,” kata Andy.
            “Yap?”
            “Abang belum pernah merasakan cinta… Abang belum pernah jatuh cinta yang sebenar-benarnya. Jadi, Abang susah menuliskan kisah cinta. Ya, begitulah.”
            Aku hanya mendengarkan sambil menantapnya. Matanya sendu dan meski dia terlihat selalu berfikir, kali ini Andy memikirkan hal yang lebih rumit. Lagipula apa yang lebih rumit dari pada cinta? Cinta itu membingungkan, sederhana dan rumit di saat yang bersamaan.
            Contohnya, kamu mencintai ibumu begitu rupa. Ibu yang telah melahirkanmu di dunia ini (beberapa malah meninggalkan bekas luka di perut, seperti Mama). Tapi kadang kamu juga membencinya karena tak pernah memahami apa yang sebenarnya kamu inginkan. Pada satu titik waktu kamu merasakan mencintai ibumu sekaligus membencinya.
            “Menulis itu seperti sebuah proses produksi di pabrik. Kita butuh input agar ada yang diolah. Input itu seperti bacaan atau referensi, pengalaman, kisah yang kita dengar, bahkan perasaan pada hati. Menulis adalah prosesnya. Terakhir, tulisan kita adalah output. Bagaimana Abang bisa menghasilkan novel yang ada kisah cinta jika tak pernah merasakan.”
            “Ya, bagaimana kalau Abang mencoba jatuh cinta?” usulku, asal bicara saja. Menariknya, Andy malah menyetujui saran absurd-ku.
            Aku tertawa melihatnya yang jadi serius padahal kami sedang melihat Sponge Bob kehilangan Garry. Daguku sampai terangkat saking lepasnya tertawa.
            “Tunggu! Sekitar tengkuk kamu memar, Jo.”
            Oh, gawat, dia melihatnya. “Ini bukan apa-apa. Aku hanya terjatuh.” Kemudian kutambahkan, “dari tempat tidur.”
            “Seperti habis dipukul dengan tongkat baseball,” komentarnya.
            Dalam hati, kuiyakan apa yang dia sebut.
           
Pintu itu dibanting sehingga seluruh rumah kami terasa dilanda gempa mini. Papa sudah berangkat lagi ke pangkalan tempat truknya berada. Dia seorang supir truk kontainer yang bertugas mengantarkan apa yang perlu diantarkan. Huh, macam aku peduli saja.
            Tiba-tiba, pintuku terbuka sedikit.
            “Jo, sudah bikin PR?” tanya Mama. Beliau menghampiriku yang sedang duduk di meja belajar. Buru-buru kutepikan novel Nicholas Spark dan mengambil catatan Akuntansi.
            “Dalam proses, Ma. Papa sudah pergi?”
            Beliau mengangguk. Kelelahan itu begitu pasti di raut wajahnya.
            “Kadang aku ingin kita pergi dari sini.”
            “Hush, kamu bicara apa? Rumah kita di sini. Kita satu keluarga di sini.”
            Semua hanya kebohongan, Ma. Ingin aku berteriak. Papa bersikap tidak selayaknya suami atau orangtua. Dia seperti maharaja diraja dari negeri seberang. Datang kapan pun dia inginkan dan semua yang dikehendaki harus tersedia.
            “Bagaimana hari-harimu? Menyenangkan?”
            “Aku jadi tak ingin hariku menyenangkan sedangkan Mama sedih. Bagaimana kalau aku juga kerja membantu mama?”
            Mama menggeleng tegas. “Kita sudah bicarakan ini. Kamu akan tetap sekolah, lulus hingga S1, baru kamu bisa mencari pekerjaan. Mama sudah putuskan itu. Hidup kamu masih panjang, mama ingin kamu menikmati hidup.”
            Aku menghela nafas. “Aku punya seorang teman baru.”
            “Oh, ya?” tanya mama antusias.
            “Namanya Bang Andy, sudah kuliah, dan dia pernah kutolong saat dia jatuh di perempatan. Sekarang, aku sering main ke kostnya. Tadi saja kami makan es kim.”
            “Senangnya. Bagaimana kalau besok mama bertemu dengan Andy itu? Kamu bisa ajak dia makan malam di rumah kita. Mama kerja shift pagi besok.”
            Aku tidak yakin dengan gagasan itu. Bayangan membawa seseorang, orang lain, ke dalam rumah yang penuh rahasia untuk dunia luar ini, membuatku kurang yakin apakah Andy akan menerima… menerima apa? Bahwa aku berasal dari keluarga bobrok? Memangnya kenapa kalau dia tahu aku punya ayah pemarah dan ibu yang selalu kelihatan lelah karena menjadi korban kekerasan? Aku malu? Mungkin.
            “Apa itu perlu?” tanyaku pada mama.
            “Sudah lama rumah ini tidak didatangi tamu sejak nenek meninggal. Ini akan menyenangkan. Kamu tak pernah ajak teman sekolahmu, kenapa tidak mengajak orang yang sudah kamu tolong itu?”
            “Akan aku coba bilang pada Bang Andy.”
            Sebelum keluar dari kamar, mama membelai pipiku. Aku menangkap tangannya yang kapalan dan menahannya lebih lama di pipiku. Aku sayang mama.

Di atas meja makan terhidang makanan istimewa. Masakan yang tak pernah ada di hari biasa. Mama sengaja membuatnya untuk kedatangan Andy. Sedangkan Andy berbaik hati lagi membawakan es krim vanilla, kali ini tiga kotak.
            “Wow, kelihatannya enak sekali,” kata mama.
            Aku duduk di samping Andy, sedangkan dihadapan kami Mama sibuk menata masakannya. Selagi kami makan mama berbincang dengan Andy. Aku lebih banyak mendengarkan. Sepertinya mereka berdua cocok.
            “Entahlah, pertemuan kami terjadi begitu saja. Kemudian bertemu lagi, sehingga jadi akrab begini,” kata Andy sambil memandangku seakan meminta persetujuan.
            “Jo tidak merepotkan, kan?”
            “Tidak! Malah sering membantuku membuat tugas. Dia memang mengetik lambat, tapi aku terbantu.”
            Aku menyikutnya. “Aku cuma mau melakukan itu selama Abang menjamin aku terus diberi es krim!”
            Kami bertiga tertawa.
            Saatnya makanan penutup. Mama menyiapkan tiga sendok dan membukakan kotak eskrim itu satu per satu.
            “Hmm, Andy, mengenai mengetik lambat tadi…,” kata Mama. “Jo memang pernah disleksia, walaupun agak ringan. Dia berusaha sebisa mungkin dapat membaca seperti anak lainnya. Ya kan, Jo?”
            Aku mengangguk. Aku merasakan tatapan Andy di sampingku. Informasi ini baru baginya. Mungkin dia merasa bersalah karena sering menggoda kemampuan mengetikku yang parah. Aku memang sengaja tidak memberitahunya.
            “Ayo nikmati es krimnya sebelum mencair,” kata Andy.
            Saat menikmati es krim pun kami bertiga berbincang. Syukurlah Andy tidak bertanya-tanya tentang Papa. Dimana papa, kenapa tidak ada bersama kita? Pertanyaan yang kutakutkan itu nyatanya tak keluar. Sedikit demi sedikit aku merasa rileks di ruangan itu. Ruangan yang di hari lain dipenuhi sumpah serapah Papa.
            Andy melingkari lengannya di kursiku dan duduk sangat santai. Aku malah jadi kikuk namun merasa telindungi. Kulihat mata Mama yang mengagumi Andy. Beberapa saat beliau menatapku, dan aku tak bisa menafsirkan apa arti tatapan itu.

“Siapa orang itu?” tanyaku pada mama. Seorang pria yang gagah dengan kulit gelap duduk di ruang tamu sedang membaca koran. Aku yang baru saja pulang dikejutkan oleh sapaannya yang begitu ramah. Dia malah hampir memelukku.
            “Teman lama ayahmu. Dia sekarang tinggal di luar kota sebagai mandor pabrik. Dulu, sebelum kamu lahir, dia sering datang ke sini.”
            Aku mengintip lagi dari dapur. Pria itu berwajah ramah, siapa pun pasti berpendapat seperti itu. “Apa dia kesini untuk bertemu dengan Papa?”
            “Dengan kami berdua, Sayang. Ayo cepat makan siang. Sebentar lagi tolong kupaskan kentang.”
            “Baik, Ma.”
            Kuperhatikan Mama, ada yang berbeda dengan dirinya. Apa itu riasan? Sekarang mama kelihatan lebih ceria. Aku tahu mama memang masih cantik, tapi aku tak mengatakannya langsung. Kukecup saja pipinya.

“Jadi, apa arti cinta?”
            Aku harap aku tidak merasa seperti ini. Dadaku agak berdebar dan suhu tubuh meningkat. Andy hanya duduk disampingku dan bertanya hal yang… biasa. Itu hanya untuk memperindah cerita dalam novelnya, kan?
            “Aku tidak tahu pasti. Setiap orang bisa mengartikan cinta, kurasa,” kataku.
            “Benarkah?”
            “Kupikir orang sastra begitu dekat dengan masalah seperti itu. Mengungkapkan perasaan hati dengan kata-kata… peribahasa, puisi, majas…”
            “Masalahnya aku yang tidak begitu pandai tentang itu. Jujur.”
            Aku terdiam ditatap begitu rupa seperti itu. “Kenapa tidak mencoba sebuah hubungan dengan cewek. Abang tampan, pasti banyak cewek yang mau.”
            “Begitu, ya? Tapi aku tidak terlalu yakin aku akan menemukan cinta kalau aku memaksa begitu.  Inilah yang kumaksud, cinta yang datang secara alami… begitu saja… seperti setiap kali kita bermimpi. Bukankah kita tidak bisa meminta apa yang akan hadir di tidur kita?”
            Aku jadi teringat dengan Mama. Setelah meminta maaf karena obrolan kami beralih topik, aku berkata, “Mama menjadi beda hari ini. Sepertinya kedatangan Om Rahman itu begitu spesial. Mama berdandan, tidak seperti biasanya.”
            “Tentu saja mamamu berdandan karena ada tamu,” kata Andy.
            “Tapi sepertinya lebih dari itu… mereka terlibat… cinta?”

Andy
Aku melihat pemaafan, aku melihat kebenaran. Engkau melihatku sebagaimana aku adanya… seperti bebintang memeluk purnama. Ditempat mereka tepat berada. Dan kau tahu, kita kan selalu bersama.

Malam itu, aku berada di kafe bersama teman-teman anggota jurnalistik kampus. Sambil menikmati cappucino panas yang mengepul, aku teringat dengan Jo. Pertemuan terakhir kami yang didominasi obrolan tentang cinta. Aku hanya bermaksud menggodanya saat bertanya “apa arti cinta” dengan berbisik seperti itu. Aku tak mengharapkan apa-apa, karena apa yang kurasakan ini belum kuketahui apa artinya. Bahkan aku tak begitu memahami diriku.
            Aku bukan tak pernah jatuh cinta, hanya saja tak bisa membedakan mana yang sebenarnya cinta atau hanya simpati belaka. Banyak perempuan yang mendekati dan aku senang, tentu saja. Kebaikan hati siapa pun tentu harus dibalas dengan kasih sayang. Namun, perasaan ingin memiliki… apakah itu cinta?
            Aku ingin menjadi pelindung bagi Jo. Entah kenapa saat melihat dia yang begitu menyimpan banyak rahasia, kulihat ada kesedihan, kehampaan, dan kesendirian. Dia memang pernah jujur padaku bahwa dirinya tak memiliki teman di sekolah. Semua menjauhi hanya karena dia tampak bodoh.
            Padahal aku belajar banyak darinya.
            Sebuah pertandingan sepak bola disiarkan TV di kafe itu. Aku sesekali berkomentar dalam percakapan dengan teman-teman. Saat di layar seorang pemain cekcok dengan wasit, ponselku berdering. Jo menelponku.
            “Bang, mama…,” katanya terisak. “ Mama butuh ke rumah sakit!!!”

Aku dan Jo mendengarkan penjelasan dokter dengan seksama. Akibat beberapa pukulan benda tumpul di sekitar kepala dan dada beliau, beberapa tulang dan organ dalam mama Jo luka. Dia tidak sadarkan diri.
            “Koma. Tubuhnya mengalami shock, tapi otaknya masih berfungsi, hanya saja kita perlu menunggu waktu sampai dia sadar,” kata dokter itu sebelum pamit untuk memeriksa pasien gawat darurat lainnya.
            Aku tak habis pikir, baru seminggu yang lalu aku bertemu mama Jo, kini dia terbaring di rumah sakit dengan perban dan selang di penjuru tubuhnya. Sedangkan Jo, tentu saja lebih terguncang.
            “Aku tidak bisa…, aku tidak bisa melarang dia lakukan iu pada mama. Aku bodoh, lemah… aku…!!”
            Dia menangis. aku tak sanggup melihat wajahnya sedih. Kurasakan pipiku juga basah. Kuraih bahu Jo dan memaksa matanya menatap mataku.
            “Kamu kuat. Kamu sudah besar, Jo. Berdoa untuk kesembuhan mamamu. Jangan menangis.”
            Dia tetap menangis.
            Kali ini aku melingkari lenganku ke tubuhnya dan memeluk Jo erat. Kesedihan itu baiknya kami bagi berdua. “Tenang. Aku ada di sini. Aku ada di sini.”
            Hingga tangisannya mereda, Jo masih dalam pelukanku.

Mama Jo dipindahkan ke ruangan lain, VIP. Kupilih itu agar bisa mendapatkan apa yang dibutuhkan dengan maksimal. Pada Jo, aku berjanji menanggung semua biaya. Dia bersikeras akan menggantinya suatu saat, padahal itu tak perlu.
            Pagi hari, saat aku melihat Jo mulai terbangun, kudekati dia sambil melingkari lenganku di bahunya. “Kamu perlu memberitahu sekolah biar kamu tidak dianggap absen.”
            Dia menggeleng. “Aku tidak mau sekolah tahu.”
            Aku mengerti. Masalah keluarga yang sebaiknya jangan diketahui publik. Di lain sisi, menurutku tidak bijak jika sekolah tidak diberitahu. Setidaknya kepala sekolah mesti tahu.
            “Abang tidak perlu repot memikirkannya. Tak ada guru yang peduli padaku. Bahkan mereka pun tak tahu aku ada.”
            “Jangan bicara seperti itu. Sekolah tempat kamu dititipkan untuk dididik. Tanggung jawab guru jika terjadi sesuatu dengan muridnya. Kita ke sekolah nanti, boleh? Ini demi kamu, Jo.”
            Aku merasa bangga dengan diriku sendiri. Entah kenapa, rasa hatiku yang kurasakan ini sudah cukup dibandingkan apa yang Jo sebut ‘akan membalas budi baikku’. Aku ikhlas melakukan semuanya.
            Akhirnya kepala sekolah datang menjenguk mama Jo. Kepala Sekolah itu, seorang wanita separuh baya yang baik hati. Dia berjanji akan merahasiakan masalah yang sebenarnya dari orang lain. Sedangkan Jo diberi waktu untuk tidak sekolah hingga dia merasa siap bertemu kembali dengan teman-temannya.

“Andy, mau ke mana?” tanya seorang cewek sesama anggota jurnalistik kampus. Kami baru saja selesai rapat redaksi untuk penerbitan koran selanjutnya.
            “Rumah sakit,” jawabku. Aku sedang memasang jaket dan helm. Kupikir cewek itu akan beranjak karena menghalangi motorku lewat.
            “Siapa yang sakit?”
            “Mama temanku. Kenapa?”
            “Ak butuh tumpangan. Bisa antari aku, tidak? Kalau kamu mau ke rumah sakit dulu aku ikutan juga tidak apa-apa.”
            Sebenarnya aku agak kesal dengan cewek ini. Dia terkenal genit, susah kalau lihat cowok ganteng, inginnya menggodai. Namun, aku tak mau membuat dianggap sombong. Aku memberinya tumpangan plus rela mendengarkan celotehannya di sepanjang jalan.
            Tanpa diminta, Phia, curhat padaku tentang pacarnya yang terlalu posesif. Padahal sebelumnya mereka sepakat melakukan pacaran yang sehat (aku tidak mengerti apanya yang sehat). Sekarang cowok Phia kadang bisa main kasar.
            “Bayangkan, aku kerja di LSM yang membantu korban KDRT malah hampir terkena kasus seperti itu! Unbelievable!”
            Apa yang kudengar seperti angin segar bagi masalahku, oh, lebih tepatnya masalah keluarga Jo. Aku tak jadi mengantar Phia ke tempat tujuannya, alih-alih ikut membawanya ke rumah sakit. Phia jelas bingung dengan perubahan sikapku yang mendadak.
            Saat aku masuk ruangan opname mama Jo, kulihat Jo masih tetap duduk di samping tempat duduk. Sepertinya dia tak berniat untuk melakukan apa paun, bahkan sekedar menuci mukanya.
            Jo menoleh saat kupanggil. Dia terkejut melihat seorang cewek juga ikut bersamaku. Aku perlu menjelaskan sebelum semua jadi salah paham.
            “Phia bekerja di LSM yang mengurus masalah KDRT. Kuharap kita bisa bekerjasama dengannya agar kasus mamamu selesai,” kataku.
            Jo dan Phia menatapku bingung. Terlebih Jo. Phia bertanya-tanya dengan suaranya yang melengking.
            “Begini Phia… mama temanku ini, Jo, adalah korban KDRT. Pelakunya saat ini tidak diketahui di mana. Aku ingin kamu dan LSM-mu membantu menangani kasus ini dan membawanya ke meja pengadilan. Berapa pun biayanya akan kutanggung.”
            Wajah Phia berubah menjadi serius.
            “Kenapa tidak bilang dari tadi? Aku tentu saja akan membantu. Aku hanya butuh beberapa hal seperti kesaksian, bukti fisik, dan lainnya. Tapi, sepertinya bukti fisik sudah di depan mata…”
            Aku tak sempat mendengarkan Phia lagi saat Jo dengan kasar menarikku ke luar kamar.
            “Aku tahu Abang sudah membayar semua biaya rumah sakit. Tapi, jangan terlalu ikut campur urusan keluargaku, Bang. Aku bersyukur Papa menghilang entah kemana. Aku tak mau berurusan dengan dia lagi. Mama masih koma, tapi Abang malah mengurus masalah pengadilan, hukum, penjara!”
            Aku menenangkan bahu Jo. Dia mulai memangis lagi.
            “Banyak kasus seperti ini yang terlambat diurus. Semua bukti lenyap, pelaku bebas berkeliaran. Jika papamu tak segera diamankan, suatu saat dia akan menyakitimu.”
            Jo memalingkan wajahnya.
            “Jo, dengar. Aku melakukan semua ini agar tidak ada lagi penderitaanmu dan mamamu. Sejak mengenalmu aku tahu ada yang harus kutolong. Sejak kenal kamu entah kenapa hanya terpikir kebahagiaan kamu. Dan ini bukan hanya masalah sekotak es krim.”
            Kali ini tak ada yang menghalangi mata kami. Dia menatapku dan kuharap mataku memancarkan kebenaran hatiku. Aku tulus menyayanginya.
            “Biarkan Phia membantu kita, oke?”
            Dia memelukku. “Aku minta maaf…,” katanya lirih.

Sebisa mungkin aku membantu Jo mempersiapkan apa pun yang diminta Phia. Setelah dia cukup siap, Jo kembali masuk ke sekolah seperti biasa. Masalah keluarga Jo tersimpan aman di Kepala Sekolah. Kami juga bergantian menjaga mama Jo, mengajak mengobrol, meski pasti tidak dijawab, dan mengawasi perkembangan kondisi beliau.
            Aku selalu membawa laptop ke rumah sakit untuk membuat tugas kuliah dan menyelesaikan proyek novelku.
            Namun, saat yang paling menyenangkan adalah aku berada di ruangan itu bersama Jo. Semua terasa berada di suatu titik temu dimana kami ada di dunia sendiri. Jika kami terpisah, kami seakan berjalan di atas dua dunia.
            Sedikit demi sedikit aku belajar mengenai cinta, mencintai cinta dan orang yang kucinta. Sedikit demi sedikit pula kisah cinta merasuki halaman-halaman calon novel sejarahku yang berseting penjajahan Jepang dulu.
            Aku melihat tubuh mama Jo yang masih tidak sadarkan diri sambil bertanya-tanya bagaimana sebuah hubungan atas nama cinta itu bisa memberi kesakitan seperti itu. Apa mama Jo pernah mencintai suaminya? Atau suaminya mencintai dengan definisinya sendiri?
           
Akhirnya Jo menceritakan apa yang dulu dia rahasiakan dariku.
“Sebelum aku bertemu dengan Abang, aku pergi ke perpustakaan untuk mengalami trance. Aku menyebutnya begitu. Aku merasa memiliki kepribadian lain yang berbagi tubuh denganku ini. Jika aku tak sadarkan diri, aku tak merasakan sakit apa pun saat Papa mulai melecutku dengan ikat pinggangnya.”
Aku memaksa ingin melihat bekas luka pada punggung Jo. Begitu jelas memar itu. Aku menyentuhnya dan dia meringis.
“Di beberapa bagian sakitnya masih terasa.”
“Sebenarnya  ide mama yang memintaku pergi kemana pun yang aku mau jika papa sedang dirumah. Beliau yakin Papa tidak akan marah besar padanya. Yah, mama menganggap umpatan bukan perkara besar.”
Jo tiba-tiba berhenti berbicara.
“Sampai… Om Rahman itu datang!” Dia seperti tersambar petir ide. “Kenapa aku sampai melupakan dia? Om Rahman, ya, aku harap dia tahu jawaban semua ini!”
“Om Rahman yang datang waktu itu dan mamamu berdandan?” tanyaku memastikan.
Jo mengangguk.
“Sepertinya memang ada cerita pada masa lalu mereka…,” kata Jo.
“... cerita cinta…?” tanyaku menebak.

Jo hampir membongkar seluruh kamar mamanya. Dia hanya perlu menemukan petunjuk keberadaan Om Rahman. Dia membutuhkan kartu nama, catatan nomor telepon. Mama Jo tidak memiliki ponsel, jadi agak membingungkan di mana dia menyimpannya.
            Pencarian Jo berakhir saat dia menemukan kotak berisi belasan foto yang sudah mulai termakan usia. Jo mengenali wajah di foto itu. Mama Jo dan suaminya, mama Jo dengan beberapa temannya… dan Mama Jo bersama Om Rahman, saling memeluk. Sisi belakang foto yang terakhir itu tertulis RIANA-RAHMAN UNTUK SELAMANYA.
            Kotak itu pula yang menyimpan kartu nama terbaru Om Rahman.

Aku dan Jo menyambut Om Rahman, yang datang bersama istrinya. Om Rahman hadir dengan dua crutch. Tulang kakinya patah karena dipukuli dengan besi. Kepalanya membutuhkan tujuh jahitan. Semua diterimanya dari papa Jo.
            Saat bersalaman dengan Jo, Om Rahman merangkul Jo dan terisak di pundaknya. Setelah beberapa lama, baru beliau duduk di kursi samping tempat tidur pasien.
            “Aku mungkin memang pantas menerimanya dan aku sanggup. Tapi, Riana tidak… dia begitu lembut dan tak pantas menderita lagi.” Om Rahman mengusap matanya berkali-kali. Istrirnya setia duduk disamping, menenangkan.
            “Om Rahman,” kata Jo. Aku yang duduk disampingnya memberikan dukungan. “Aku ingin tahu yang sebenarnya terjadi malam itu… sampai papa berbuat terlalu jauh begini.”
            “Aku, Istriku, mama dan papamu sudah mengetahui ini Jo. Sekarang giliranmu yang tahu… dan temanmu…?”
            Aku memperkenalkan diri,” Saya Andy, Om. Sahabat Jo.” Jo tersenyum saat mata kami bersirobok.
            “Baiklah. Om ini tipe orang yang ingin semua masalah tuntas diselesaikan. Jangan ada yang setengah-setengah. Walau pun begitu, masih saja ada hal yang tak kunjung selesai karena ketakutan yang muncul di hati orang yang semakin menua ini. Masalah mencintai seseorang.”
            Aku siap mendengarkan cerita cinta ini.
            “Rahman dan Riana, terkenal di kampus sebagai dua sejoli serasi,“ kata Om Rahman sambil menatap istrinya, seakan mengatakan ‘itu hanya masa lalu, sayang’. “Sahabat kami banyak, termasuk Indra, papa Jo. Indra juga mencintai Riana, atau dia berkata seperti itu… dan Om terlalu pengecut untuk memulai sebuah hubungan yang lebih serius karena masih menikmati jadi pasangan primadona kampus, Om didului oleh Indra. Pria itu melamar Riana, dan tanpa alasan yang jelas Riana menerima.”
            Air mata menitik pada pipi Om Rahman. Setelah meminta izin istrinya, Om Rahman menggenggam tangan mama Jo, cinta sejatinya.
            “Beberapa minggu setelah menikah, Riana datang pada Om… meminta maaf atas semua yang terjadi. Apa yang diharapkannya dari Om adalah melupakan masa lalu dan mulai menjalani kehidupan baru. Om tak terima, dan meminta dia tinggal lebih lama. Om tak ingin memberi tindakan kami itu dengan sebuah nama. Tak pantas memang seorang wanita yang sudah menikah bersama pria yang bukan suaminya. Namun, kami saling mencintai dan saat itulah anugerah itu hadir diantara kami.”
            Aku bertanya-tanya.
            “Anugerah?” tanya Jo.
            Istri Om Rahman yang menjawab, “Kamu Jo. Kamulah sang anugerah. Awalnya Tante ketakutan setengah mati mendengar kenyataan itu, tapi semua telah terjadi. Tak ada yang perlu di sesali.”
            “Jadi…?”
            “Itulah yang membuat papamu murka. Mungkin kamu jangan panggil saya Om lagi…,” kata Om Rahman pada Jo. Dia mengajak Jo mendekat.
            Aku menepuk bahu Jo dan dia bagai robot kehabisan baterai. Pasti sulit mencerna semua fakta mengejutkan ini.
            Om Rahman, Papa Jo sebenarnya, meraih tangan Jo, serta menumpuknya bersama tangan mama Jo dan dia sendiri. “Kita ada di sini sebagai yang ditakdirkan bersatu… meski di beberapa waktu kita terpisah.”
            Momen itu membuatku menitikkan air mata.
            Saat mengusap mata, aku mendengar sebuah suara. Mama Jo terbangun dari komanya.
            “Kekuatan cinta…,” bisikku lirih. Seperti munculnya perasaanku pada Jo. ***

P.S.: paragraf yang tercetak miring adalah terjemahan lirik lagu “When I Look At You” dari Miley Cyrus dengan beberapa perubahan.

No comments:

Post a Comment