Friday, October 12, 2012

MENERIMAMU APA ADANYA

Oleh Jason Abdul 

Saat kamu kesal, kamu akan begini: menggaruk bagian belakang kepalamu, menunduk, dan pandanganmu tak bisa ke satu tempat, bagai masalahmu berada di mana-mana. Aku pun tak masalah jika kamu tak melihatku saat mencoba memberimu saran. Sebenarnya kamu pendengar yang baik.
            “Kenapa mereka setuju menggunakan kata-kata “mantan” atau “bekas” atau apalah yang artinya “dulunya”, tetapi tidak mau mengubah mindset bahwa itu layaknya perfect past tense yang terjadi di masa lampau?” tanyamu padaku.  “Aku sudah berubah. Aku sudah komitmen.”
            Kamu hampir pasrah. Sudah sekian kali mencoba berhubungan serius dengan wanita, tapi tidak memberikan harapan yang cerah. Umurmu sudah cukup, pekerjaan mapan, dan dorongan dari orangtua begitu besar, membuatmu makin frustasi karena hingga sekarang belum ada wanita yang pasti jadi calon istri. Selalu bermasalah dengan mereka yang tidak bisa menerimamu apa adanya.
“Setiap pria pasti memiliki jodoh wanitanya,” kataku untuk kesekian kali.
            “Apa Tuhan masih kesal denganku karena aku pernah ingin meninggalkan semua tuntutannya dan memilih jadi yang kuinginkan padahal aku tahu Dia tidak suka?”
            “Milo, Kamu bilang kamu sudah komitmen, kan? Tuhan butuh bukti itu. Ini hanya ujian, kalau kamu lulus nantinya akan bahagia. Jangan ragu pada Tuhan, orang jahat saja masih Dia beri rezeki, apalagi orang baik seperti kamu!”
            Kamu menghela nafas, “Thanks, Chia,” matamu menatapku. Pandangan yang bisa meluluhkan wanita sepertiku. Kemudian kamu menengadah, “Sorry, God.” Aku tersenyum.
            “Ayo, habiskan makanannya, terus antarkan aku balik ke kantor. Bisa-bisa aku telat lagi. Kamu enak, bisa masuk kantor kapan saja...” kataku sambil mengunyah. Kata-kataku jadi tidak jelas.
            “Iya, iya!” balasmu, agak kesal tampaknya. Namun, aku yakin kamu hanya becanda.

Milo, kamu sudah lama bekerja menjadi desainer dan produsen booth penjual makanan. Kamu membuat banyak kreasi booth yang secara komersial dapat menarik minat pelanggan. Aku bisa melihat karyamu di penjuru kota. Kamu sangat suka mendesain, kan? Jadinya kamu menikmati setiap kesempatan berada di depan komputer menyinkronkan imajinasi di kepalamu dengan tanganmu yang lincah memainkan mouse.
            Dulu pun, sejak SMA, kamu suka menggambar. Aku pernah kamu berikan selembar A4 yang digambari gambar Inuyasha, hanya karena aku suka anime tersebut. Padahal aku tidak minta, kamu sendiri yang rela menghabiskan waktu, dan ingat, kita belum terlalu dekat waktu itu.
            Baru di kelas tiga, kita yang sekelas lagi seperti tahun sebelumnya, kita menjadi akrab meski tidak sering jalan bareng ke sana-ke mari bersama. Kamu memang lebih suka sendirian. Kamu lebih senang menghabiskan jatah istirahat siang di kelas untuk membaca buku daripada mengobrol dengan teman-teman.
            Kamu mau tahu kenapa aku susah payah mau berteman denganmu, Milo? Saat yang lain tak suka gayamu yang kurang peduli? Karena kamu misterius, pintar, dan tidak mau terbawa arus. Prinsipmu bahwa hidup ini buat kita sendiri, bukan buat orang lain. Banyak wanita yang suka padamu tapi selalu ketakutan saat kamu menanggapi mereka dengan dingin.
            Orang bilang kita pacaran. Biarlah gosip itu datang dan berlalu, katamu. Nanti mereka lelah sendiri. Aku setuju, apalagi aku baru saja putus dengan pacarku sejak SMP. Cinta monyet itu kandas juga akhirnya. Padamu aku curhat, Milo. Kamu memang tidak mengatakan hal yang cukup berguna, tapi aku senang kamu mendengarkanku sampai tuntas.
            Saat perpisahan SMA, kita sepakat akan saling kontak dan tidak memutuskan persahabatan ini. Aku sering menelponmu, mengirim SMS, dan e-mail. Kamu memang sering kesal jika aku sering menelpon dan mengirim sms yang tidak penting. “Udah makan belum?” atau “Lagi ngapain?” bagimu pemborosan. Lucunya, kamu kangen juga waktu aku jarang menelpon, kan?
            Kuliahmu di jurusan Teknik Arsitektur memang membuatmu sibuk hingga kita jarang bertemu. Bahkan selama setahun terakhir kuliah kita sempat hilang kontak akibat ponselmu hilang. Untung ada Facebook yang bisa diandalkan. Kucari namamu dan kutemukan. Kita berkomunikasi lagi.
            Dan begitu banyak perubahan kulihat pada dirimu.
            Perubahan yang sempat kita sesali.


“Cara paling logis untuk menikmati hidup ini adalah menerima dirimu apa adanya. Bagaimana lingkungan akan menerimamu jika kamu sendiri tidak mau?” katamu di pertemuan kita yang lain.
            Ingat kata-kata itu, kan? Kamu pasti ingat Milo, karena itu sepertinya sudah tertanam pada otakmu. Sekarang kamu memikirkan segala sesuatunya lebih ringan dan simple.
            Pola pikir itu pula yang membawamu pada dunia yang tidak pernah kubayangkan akan kamu masuki. Kamu, yang selalu mempesona para wanita meski hanya duduk diam dan membaca di sofa, serta bisa mendapatkan wanita mana pun yang kamu mau. Kenapa kamu malah bergaul dengan pria-pria itu?
            “Naluri,” katamu. Bukan, naluri pria adalah mencintai wanita, Milo. Kemudian kamu berkata lagi, “Ini sudah lama. Sejak SD aku sudah tahu aku berbeda.”
            “Kamu baru berbeda sekarang, Milo. Aku sampai tidak kenali kamu, gayamu, pola pikirmu!”
            “Kita tidak bisa membahagiakan semua orang. Maaf kalau aku mengecewakanmu.” Siapa pun tak akan bisa, Milo!
            “Kamu tahu itu salah, kan? Kamu masih salat, kan?” tanyaku sambil mencari penyesalan di matamu.
            Kamu mencoba berhubungan dengan Tuhan semampumu. Katamu itu tidak begitu membantu. Malah, karena tuntutan Tuhan terlalu banyak, kamu jadi rentan stres.
            “Chia, rasanya plong setelah aku bisa menerima diriku apa adanya. Ini diriku. Aku tidak menyesalinya.”
            Kemudian, kita masuk ke pembicaraan yang membuatku tak nyaman. Kamu bilang dia bernama Mario, yang kamu kenal di sebuah situs pertemanan. Aku tak ingin tahu situs apa dan bagaimana penggunaannya. Aku hanya tahu bahwa situs itu membuatmu berubah.
            Kalian mulai dekat. Kamu dan Mario awalnya bertemu diam-diam. Pertemuan kalian lebih sering dilakukan di rumah, apartemen, dan hanya sesekali di ruang publik. Kadang adrenalin kalian berpacu, ketakutan jika ada yang melihat.
            Tak sadarkah dirimu, perbuatan yang kamu takut orang lain mengetahuinya adalah perbuatan yang kurang baik?
            Kuharap kamu bisa melihat wajahku yang tak mampu menahan gundah dari dasar hati. Aku tak ingin lagi mendengar kamu memuji si Mario itu. Aku takut kehilangan kamu, karena aku jujur tak ingin mengenalmu yang seperti ini. Bisakah kamu kembali menjadi temanku yang dulu?
            “Yah..., kami tak tahu sampai kapan akan main kucing-kucingan dengan semua orang. Biarlah semua mengalir, kami nikmati saja,” katamu.
            Aku tak ingin kamu begitu, Milo. Tenggelam... kamu bagaikan menyerahkan diri pada sesuatu yang tak pasti dan gelap. Masa depanmu bagaimana?
            “Aku mencintainya, Chia. Tak akan terganti. Aku bahagia, Chia.”
            Aku menelan ludah getir. Seberapa bahagia kamu, Milo?

Dua bulan kemudian, kita duduk di kafe ini, sepulang dari kantor. Kamu menjemputku karena ingin membicarakan sesuatu. Dan aku tak tahu harus bagaimana, senang mendengar ceritamu atau ikut sedih karena kamu menangisi dirimu sendiri? Aku memilih keduanya.
            “Aku begitu bodoh bisa percaya mereka. Aku merasa terjebak. Selama ini kupikir karena selalu mendapat pandangan miring dari masyarakat, mereka berusaha menjadi orang baik. Nyatanya, mereka merusak citra yang telah rusak itu!”
            Kamu bercerita bahwa Mario ternyata memiliki pacar pula di kota asalnya. Kamu bilang lupa untuk memberitahuku bahwa Mario berasal dari daerah dan merantau di ibukota ini. Kamu tak tahu menahu tentang pacar pria Mario yang telah menaruh dendam padamu.
            Dia mulai menerormu, entah darimana nomor ponselmu diperolehnya, mengirim sms yang berisi kata-kata kasar, menelponmu di tengah malam, bahkan mengirimkan bingkisan yang berisi sesuatu yang busuk.
            Sejak itu pula kamu meragukan kesetiaan Mario. Sekarang kamu berhati-hati untuk mempercayai Mario, tapi tak jarang kamu terpedaya pada rayuan pria itu. Milo, kamu bilang kamu tertipu berkali-kali dan hanya cintamu padanya yang membuatmu sulit berpikir logis. Kamu ingin terlepas namun sangat sulit.
            Sedangkan aku ingin menangis. Aku tahu kamu sanggup, tapi kamu tak mau lepas.
            Semua itu memuncak saat sebuah surat dikirimkan ke rumah orangtuamu. Mereka berdua, yang sedang menikmati masa pensiun, di kagetkan oleh laporan itu. Surat yang berisi foto kamu dan Mario begitu mesra. Bukti yang ada membuat mereka mau tak mau terpengaruh oleh surat yang tak tertulis siapa pengirimnya. Ibumu sempat menangis berhari-hari. Ayahmu yang selalu berusaha menangani masalah dengan pikiran tenang baru berbicara padamu setelah hari kedua surat itu datang.
            Aku bersyukur, saat mereka menerimamu apa adanya. Mereka hanya memintamu berjanji untuk berubah kembali menjadi kodratmu seharusnya. Kamu sudah memilih jalan yang keliru, Milo. Aku setuju dengan orangtuamu. Kamu terlalu baik untuk berada di dunia itu.
            “Dunia yang terlalu banyak kebohongan. Gampang merayu sana-sini, ketemuan dengan si anu di kota lain. Kesetiaan mereka, seperti di dalam novel bertema itu, hanya omong kosong.”
            Kamu kesal dengan dirimu, nelangsa karena Mario meninggalkanmu. Kalian telah terlibat begitu banyak pertengkaran. Mario pun tak segan menghabiskan uangmu dengan membebankan kartu kredit yang dipakainya padamu.
            Setelah terpaksa melupakan semua kenangan kalian, mengganti nomor ponsel, dan tidak menemui siapa pun lagi dari dunia itu, kamu berusaha untuk menjadi biasa kembali.
            “Aku kini sudah berjanji pada orangtuaku. Aku akan berubah meski sulit, meski membutuhkan waktu yang lama... aku berusaha.”
            Kamu juga berjanji padaku. Aku memegangnya erat-erat.

Masalahnya, kamu terlalu jujur pada semua orang. Maksudku bukan berarti jujur hanya untuk orang dan saat tertentu, tapi... ya, memang itu maksudku. Ada kalanya dianjurkan menutupi suatu hal. Ingat kisah dari guru sejarah dulu? Saat Perang Dunia II, ada seorang nenek yang baik dan jujur. Saking jujurnya, dia mengakui pada tentara Jerman bahwa di rumahnya bersembunyi belasan orang Yahudi. Akibat kepolosannya itu, seluruh pelarian di sana dibunuh dengan kejam. Bukankah sebaiknya nenek itu berbohong?
            “White lie is nonsense,” katamu.
            Kamu bersikukuh untuk mengatakan pada wanita yang ingin memiliki hubungan khusus denganmu bahwa kamu adalah homoseksual. Kamu ingin calon istrimu tahu bahwa walaupun kamu memiliki ketertarikan pada pria, kamu akan tetap membahagiakan istri dan anak-anakmu. Kamu hanya ingin tiada hal yang ditutupi. Sayangnya, belum ada wanita yang tepat. Jika bukan sang calon istri yang menolakmu, maka keluarga mereka yang menolak.
            Ada Tari, Ina, Emilda, Tatiana, Clara, dan Aisyah... dan entah berapa nama lagi yang telah menolakmu. Mereka hanya ingin kehidupan yang normal, ucapmu mengulang alasan klise mereka. Mereka tak mengerti usahamu untuk menjadi normal, tak peduli bahwa hasratmu sudah menjadi pilihan bukan tuntutan.
            Kamu menggaruk, menunduk, dan memandang ke segala arah. Kecuali padaku. Entah apa yang tak bisa kamu temukan dari memandangku. Ya, pemecahan masalahmu. Aku ada disini sebagai pendengar yang baik. Jika untuk memberi solusi, aku tak tahu apa lagi...
            Kamu tak percaya, kan, bahwa selama ini ada satu orang yang menerimamu apa adanya? Akan menjadi istrimu walau bagaimana pun kehidupanmu nanti? Menjagamu dari godaan wanita, atau pun pria?
            Aku sudah mendengar kisahmu. Aku menuliskan ini untukmu.
            Kini aku ingin kamu tahu... aku yang menerimamu apa adanya. Akulah solusi masalahmu... Namun, kamu belum menemukan solusiku sebagai solusi yang tepat bagi masalahmu.
***

1 comment:

  1. ... *speechless*

    ntar, saya atur dulu kata2nya ya. saya speechless bacanya ._.

    “Dunia yang terlalu banyak kebohongan. Gampang merayu sana-sini, ketemuan dengan si anu di kota lain. Kesetiaan mereka, seperti di dalam novel bertema itu, hanya omong kosong.”

    walaupun memang ada benarnya, tapi pandangan ini stereotip dan cukup mengganggu saya ._. padahal saya sendiri tidak lesbi, wkwkwk.

    jika milo memang benar pintar sperti yang chia gambarkan, pasti dia bisa melihat masalah bukan dari sudut pandang dia aja. dia takkan men-judge dunia gay hanya karena pernah disakiti sekali, dia tidak mungkin senaif itu. dia pasti bisa melihat hikmah dari masalahnya. atau mungkin karena milo sedang jatuh cinta, jadi pikirannya dibutakan? atau chia aja yang berlebihan menjelaskan milo itu pintar? gatau de #Plakk.

    tapi saya suka penutupnya, simple tapi menusuk. terasa sedihnya chia yang kena friendzone, hehehe :D

    ditunggu karya2 selanjutnya :)

    ReplyDelete